Sang Petualang ExpertBook B5 Flip

ExpertBook B5 Flip | ASUS OLED | Sang Petualang

Sosok itu akan bercerita tentang masa kecilnya yang penuh dengan petualangan. Dia lahir dan besar di tepi pantai utara Jakarta, sering bercengkerama dengan anak-anak nelayan. Jangan bayangkan Jakarta pada awal tahun 80-an itu begitu megah di mata Aswi Kecil. Tidak. Untuk menuju kota yang katanya metropolitan itu harus ditempuh beberapa kilometer lagi dengan jalan kaki, becak, atau motor becak. Belum ada ojek. Tempat tinggalnya memang agak terpencil.

Limapuluh meter di depan rumahnya sudah pantai. Keluar dari komplek dimana dia tinggal, terbentang jalan yang lurus ke arah selatan. Sebelah kiri jalan ada kali besar, dimana kapal-kapal kecil dan sedang milik KPLP (Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai) sering lewat, menghasilkan ombak yang asyik untuk ditonton. Sedangkan di sebelah kanan terdapat rawa-rawa yang masih terjaga keasliannya, hutan bakau dengan habitat monyet ekor panjang, jalak putih, dan sebagainya.

Rawa-rawa itu menjadi tempat bermainnya saat ada pelajaran pramuka yang disebut dengan Persami (Perkemahan Sabtu Minggu). Bahkan rawa-rawa itu pernah dijadikan tempat syuting film laga yang dibintangi Barry Prima. Dia dan anak-anak komplek pernah berjalan menyusuri pantai dari kampung nelayan, melewati rawa-rawa, tembus ke kuburan Belanda, hingga akhirnya sudah masuk di area Ancol yang dulu bernama Binaria. Ya, petualangan sudah merasukinya sejak kecil.

Pada saat remaja, jiwa petualangan itu menggodanya lebih kuat lagi. Di bangku SMP, Aswi remaja berani bersepeda keluar komplek, masuk ke Jl. RE Martadinata, bersisian dengan truk-truk Transformers, lalu memancing di Danau Sunter atau bahkan sampai ke Volker, Timbangan, Terminal Tanjung Priok, lalu lanjut ke Warakas, tempat sepupunya tinggal. Meski begitu, kekurangannya hanya satu, dia lemah kalau naik kendaraan bermotor beroda empat.

Gampang muntah. Ya, itulah dirinya. Sosok itu pernah dibawa naik bus ke arah Jl. Gatot Subroto guna mengikuti pelajar teladan tingkat SMP, tetapi di tengah jalan muntah. Hingga dia duduk di bangku SMA di Jembatan Item, dan kemudian rumahnya digusur sehingga harus pindah ke Kelapa Gading. Naik Metromini, Kopaja, atau Mayasari Bakti berhasil membuat penyakit muntahnya hilang. Nongkrong di Blok M adalah tempat favoritnya.

Namun penyakit memalukan itu ternyata masih ada saat dirinya harus kuliah di Bandung. Beberapa kali, perjalanan Jakarta-Bandung atau sebaliknya masih tetap diiringi dengan adegan tersebut. Obat antimo kemudian menjadi kawan dekatnya. Perlahan tapi pasti, sosok itu berusaha melawan penyakit gampang muntah dengan melakukan banyak perjalanan. Salah satu mimpinya adalah, bisa naik pesawat dan membayangkan petualangan ala detektif.

Alhamdulillah, mimpinya itu terwujud setelah dirinya menikah dan memiliki anak. Berbagai penerbangan dan jenis pesawat berhasil dia cicipi. Pulau Sumatra, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, hingga pulau-pulau kecil seperti Pulau Weh, Pulau Sebatik, Pulau Bali, Pulau Bidadari, Pulau Lombok, Pulau Bintan, dan Pulau Ambon pun disambangi olehnya. Jadi teringat saat Aswi Kecil sering berenang dari pantai ke pulau-pulau kecil yang ada di dekatnya, tetapi kemudian pulau-pulau itu menghilang.

SMA Libels | Sang Pejalan | ASUS OLED


Misteri Koin Hijau dan Kotak Ungu

Bahkan lebih dari itu, dia pun berhasil bertualang sampai ke luar Indonesia. Impian yang tidak pernah diimpikan olehnya atau keluarganya, yaitu memiliki paspor. Sampai di suatu sore yang begitu cerah di Bandung, sosok itu sedang asyik bersepeda melewati Gedung Sate dan memasuki Jl. Cihapit. Bisa jadi terpesona oleh semburat ufuk yang berwarna jingga, tanpa sadar dia terjatuh setelah sepedanya seperti menabrak benda kecil yang menghadang.

Pandangannya sempat menggelap, tetapi kemudian samar-samar mulai terang kembali. Tidak ada orang di sekitar situ. Tidak seperti biasanya. Tidak ada tukang kuda, tidak ada motor atau mobil yang lewat, tidak ada siapa-siapa. Sepedanya tergeletak di belakang. Dia segera mengecek ban dan rantainya, alhamdulillah aman. Setang juga aman, jadi masih bisa diboseh kembali. Namun, dia agak curiga dengan kotak ungu yang ada di dekat ban depan.

"Apa itu?" bisiknya. Sekali lagi dia memperhatikan keadaan sekelilingnya, lalu perlahan mengambil kotak ungu eksklusif yang pada bagian bawahnya terdapat tulisan ASUS. Setelah dibuka, di sana terdapat koin-koin hijau berukuran 10 cm, entah dari logam apa. Ada 7 (tujuh) koin yang berukir satu huruf dan gambar, tidak ada yang sama. Dia tidak paham dengan itu semua, tetapi yang membuatnya menganga, adalah adanya selembar kertas di dalam kotak ungu tersebut.

"Tiket pesawat ke Padang? Tanggal berangkatnya besok." Matanya langsung meneliti masing-masing koin. Ada huruf P dengan gambar jembatan kuning. Ada huruf O dengan gambar menara ungu dan bendera Jepang. Ada huruf D dengan gambar patung Garuda Wisnu Kencana. Ada huruf P lagi tapi dengan gambar masjid berbentuk rumah gadang. Ada huruf W dengan gambar tugu raksasa berbentuk lingkaran. Ada huruf S dengan gambar patung Garuda dengan bendera Indonesia di paruhnya. Dan terakhir, adalah logam berhuruf M dengan gambar patung Pattimura.

Agar tidak menimbulkan kecurigaan orang yang nantinya akan lewat, sosok itu segera memasukkan semua koin logam dan kertas tiket ke dalam kotak ungu, lalu segera meninggalkan tempat dirinya terjatuh. Sesegera mungkin dia harus tiba di rumah dan kembali memeriksa semua barang yang ditemukannya, sekaligus menemukan jawaban atas teka-teki tujuh koin itu. Entah sudah berapa kali, Bang Aswi menarik napas panjang di kamarnya. Hari sudah gelap, gerimis membasahi bumi.

Di tangan kirinya, selembar kertas tiket ke Padang. Di tangan kanannya, koin hijau dengan huruf P dan gambar masjid berbentuk rumah gadang. "Masjid Raya Sumatra Barat," bisiknya yakin. Jawabannya ada di sana, dan pesawat bergambar burung biru siap dinaiki pada pukul 09.20 WIB. Waktu pun berkelebat. Dia segera pamit kepada istri dan anak-anaknya, lalu mempersiapkan Laptop ASUS ExpertBook B5 Flip sebagai teman di perjalanan.

Sang Petualang | ASUS OLED | ExpertBook B5 Flip

 

Padang = Productivity

Singkat cerita, dia sudah mendarat di Bandara Internasional Minangkabau tepat pada pukul 11.10 WIB, lalu tanpa membuang waktu langsung mencari tempat sepi untuk segera memecahkan sebuah misteri besar. ExpertBook B5 Flip langsung dibuka, telunjuknya kemudian memencet tombol power sekaligus membaca sidik jarinya. Lampu LED backlit menyala terang pada keyboard-nya sementara keypad numerik terlihat manis pada panel touchpad. Sosok itu pun segera mengaktifkan fitur Link to MyASUS agar laptopnya bisa dihubungkan dengan smartphone.

Dia segera menjelajah internet dan mencari tahu tentang detail Masjid Raya Sumatra Barat. Saat mempelajarinya, sebuah panggilan menyala di laptopnya. Dia mengaktifkan video conference call dan ternyata itu adalah anak-anaknya di Bandung. Baru juga pergi sudah kangen. Meski bising, alhamdulillah fitur two way AI noise-canceling-nya membuat komunikasi tersebut berjalan dengan baik. Dia tampak puas, Laptop ASUS ExpertBook B5 Flip jelas sudah didukung oleh fitur-fitur pendukung produktivitas yang lengkap.

Sejam berlalu dan Bang Aswi telah sampai di masjid besar yang menjadi ciri khas di Kota Padang. Dia berkeliling dengan seksama. Sampai akhirnya ada sebuah kotak merah terlihat di antara pepohonan perdu. Lebih besar dua kali lipat daripada kotak ungu yang ditemukannya di Bandung. Di sisinya, terdapat ukiran PRODUCTIVITY. Dia pun jadi teringat dengan laptopnya. Sementara di permukaan atas kotak merah, ada lubang memanjang yang tampaknya pas dengan ukuran diameter koin logam hijau yang dibawanya.

Sosok itu segera memasukkan koin logam P bergambar masjid. Klik. Sebuah laci kecil terbuka dan di dalamnya ada tiket pesawat tujuan Ambon. Tertera di tiketnya, pesawat akan berangkat pada pukul 07.15 WIB, akan transit dua kali di Jakarta dan Makassar. Matanya kemudian memandang empat ujung Masjid Raya Sumatra Barat yang megah, lalu tangannya merogoh beberapa koin sisa. Di genggaman tangan kanannya, sebuah logam berhuruf M dengan gambar patung Pattimura.

Sang Petualang | ASUS OLED | ExpertBook B5 Flip

 

Maluku = Mobility

Tidak salah lagi. Huruf M yang dimaksud sudah pasti Maluku. Sebuah perjalanan panjang yang tentunya membutuhkan stamina bagus. Perjalanan seharian penuh yang akan ditempuhnya esok hari. Sosok itu butuh tempat beristirahat untuk hari ini. Setelah menemukan penginapan di dekat Lapangan Imam Bonjol, dia segera kembali membuka laptopnya. ASUS ExpertBook B5 Flip yang dibawanya adalah kesukaannya karena ringan dengan bodi tipis.

Wajar saja, materialnya berasal dari bahan magnesium-aluminium alloy (MgAl) sehingga total beratnya hanya sekira 1.11 kg. Begitu pula dengan bodinya yang tipis, yaitu hanya 1.69 cm saja. Asyik di bawa-bawa di dalam tas ranselnya. Baterai 4-cell-nya juga mumpuni, yaitu berkapasitas 66WH sehingga dia pernah memakainya sampai 14 jam. Luar biasa. Lubang charger-nya menggunakan port USB Type-C. Sangat fleksibel, bisa pakai charger smartphone atau powerbank.

Ah, dia jadi tersenyum sendiri. Lalu segera menjelajah internet untuk mencari tahu detail tentang Patung Pattimura yang berada di Pusat Kota Ambon. Petualangan memecahkan teka-teki ini membuat adrenalinnya bergejolak. Dia bahagia menjalaninya. Dan akhirnya ... waktu pun berkelebat. Sempat dua kali transit, sosok itu akhirnya sampai juga di Bandar Udara Internasional Pattimura tepat pada pukul 10.35 WIT. Perbedaan waktu antara Ambon dan Bandung memang sampai dua jam.

Bergegas dia mencari kendaraan untuk menuju Lapangan Merdeka. Patung Pattimura memang berada di salah satu sudut lapangan tersebut. Sesampainya di sana, dia sempat memandang Monumen Perdamaian Dunia berbentuk gong raksasa yang letaknya tidak jauh. Siang sudah agak terik sehingga memaksa beberapa orang lebih memilih untuk berteduh. Setelah berkeliling, dia kembali menemukan kotak merah yang sama, tapi dengan tulisan MOBILITY di sisinya. Dia segera memasukkan koin M bergambar patung Pattimura.

Klik. Sebuah laci kecil terbuka dan di dalamnya kembali ditemukan tiket pesawat. Kali ini tujuannya adalah Bandara Udara Mutiara SIS Al-Jufrie. Senyumnya melebar. "Tidak salah lagi," bisiknya bahagia. Pengalamannya berkeliling Indonesia membuatnya tahu banyak. Tangannya pun langsung memegang logam dengan huruf P bergambar jembatan kuning. Jembatan Ponulele di Palu. Mobilitas atau aktivitasnya yang tinggi mengingatkannya pada Laptop ASUS ExpertBook B5 Flip miliknya.

Sang Pejalan | ASUS OLED | Sosok Itu

 

Palu = Performance

Waktu kembali bergegas. Sosok itu sudah berada di atas pesawat bergambar burung biru, transit cukup lama di Makassar, hingga akhirnya terbang menuju Kota Palu. Dari atas pesawat, jembatan Ponulele sudah terlihat jelas. Warna kuningnya begitu mencolok di siang hari. Dia mendapatkan penginapan tidak jauh dari Pantai Talise, dan kalau jalan lagi akan ditemukan Masjid Apung Arqam Baburahman yang selamat dari terjangan tsunami.

Di dalam kamar, dia kembali membuka laptop kesayangannya. ASUS ExpertBook B5 Flip sudah tervalidasi Intel EVO sehingga memiliki performa tinggi, gesit, dan efisien. Laptop bisnis ini pun sudah diperkuat oleh prosesor Intel® Core™ generasi ke-11 terbaru dan juga Intel® Iris® Xᵉ graphics. Urusan grafis gak perlu ditanya lagi, deh, apalagi dengan clockspeed hingga 2.8GHz. Ditambah dengan RAM 3200Hz DDR4 berkapasitas 16GB yang bisa di-upgrade hingga kapasitas 48GB.

Penyimpanan? Sudah ada M.2 NVMe™ PCIe® 3.0 x 4 SSD dengan kapasitas hingga 2TB, sehingga kecepatannya bisa sampai 3500MB per detik. Plus sudah didukung teknologi RAID (Redundant Array of Independent Disks) untuk memaksimalkan potensi storage jika dipasang dengan dua keping SSD sekaligus. RAID 0 : Gabungan dua SSD, data disimpan merata, kecepatan bisa dua kali lebih cepat. RAID 1 : Membuat salinan pada masing-masing SSD, jadi backup kalau salah satunya rusak.

Lengkap. Performa komputasinya jelas bisa diandalkan oleh siapapun yang ingin berbisnis lebih baik lagi, seperti sosok itu yang kini dihadapkan pada petualangan detektif yang mengasyikkan. Setelah mempelajari jembatan Ponulele yang berwarna kuning dengan sebaik-baiknya, dia langsung bergerak ke arah sana. Jangan menunggu waktu lagi. Apalagi tujuannya kali ini adalah jembatan, pastinya akan banyak kendaraan yang lalu lalang. Harus tepat di mana lokasi mencari kotak merah berikutnya.

Alhamdulillah, dia tidak kesulitan mencarinya karena warna merahnya begitu mencolok. Sosok itu memperhatikan bahwa di bagian bawah kotak merah itu juga ternyata bertuliskan ASUS. Sedangkan di sisinya ada ukiran PERFORMANCE. Benar-benar pas. Entah ini kebetulan atau tidak, baginya perjalanan ini adalah sebuah perjalanan bahagia. Setelah koin P bergambar jembatan kuning dimasukkan, klik.

 

Fukuoka = OLED

Hingga kemudian, sebuah laci kecil terbuka dan di dalamnya ditemukan dua tiket pesawat. Bukan satu! Satu tiket pesawat dengan tujuan Jakarta. Satu tiket lagi menuju Fukuoka, Jepang. Nantinya bakal transit di Hongkong dan Taiwan. What a surprised! Masih ada waktu satu hari untuk menikmati keindahan Kota Palu. Dia ingin berendam dan berenang di Pusat Laut Donggala, setelah itu menikmati Sop Kaledo. Aih, nikmatnya.

Di atas pesawat menuju Hongkong, sosok itu menggenggam erat koin dengan huruf O bergambar sebuah menara atau tower ungu, sementara pada latar belakangnya terdapat bendera Jepang. Tidak salah lagi, maksud huruf O itu adalah lambang negara Jepang. Hanya saja yang menjadi pertanyaan, mengapa harus menuju menara yang ada di Fukuoka? Dia menerawang saat istirahat sejenak di Jakarta, mengingat-ingat kembali apa yang dilakukannya beberapa tahun lalu saat ke Fukuoka.

Menara tertinggi dan satu-satunya yang ada di Fukuoka adalah Fukuoka Tower. Menara ini dibangun pada 1989 untuk memperingati hari ulang tahun kota tersebut yang ke-100. Menara yang memiliki tinggi 234 meter ini terletak di area tepi Pantai Momochihama dan memiliki lebih dari 8.000 panel kaca yang berkilau saat pagi dan sore hari. Pada malam hari, menara ini berwarna-warni karena adanya lampu-lampu LED yang dipasang di seluruh bangunan menara.

ASUS ExpertBook B5 Flip miliknya juga sudah dilengkapi dengan teknologi ASUS OLED, sehingga memiliki tingkat reproduksi hingga 100% DCI-P3. Ada tiga sertifikasi yang diakui, yaitu TÜV Rheinland, Pantone Validated, dan VESA DisplayHDR TrueBlack. Sertifikasi TÜV Rheinland (low blue-light & anti-flicker) membuat mata aman dan nyaman. Meski memakai laptop berjam-jam, dijamin mata pengguna tetap enakeun. Sertifikasi Pantone Validated membuat layar tampil sangat akurat.

Sertifikasi VESA DisplayHDR TrueBlack memastikan layar memiliki kontras rasio yang sangat baik. Jadi, kalau misalnya sosok itu memotret Fukuoka Tower pada malam hari dan melihatnya lagi menggunakan Laptop ExpertBook B5 Flip jelas akan terlihat detail warna-warnanya. Ditambah lagi, layarnya sudah dilengkapi dengan lapisan anti-glare, sehingga meminimalisir efek silau. Gak ada cerita, tuh, berkreasi di depan laptop tapi silau oleh layarnya sendiri.

Benar saja, saat dia sudah sampai di Fukuoka Tower, kotak merah yang ditemukannya berukiran OLED pada sisinya. Jadi, selain makna huruf O adalah sebagai perwakilan lambang negaranya, huruf ini juga ternyata bermakna OLED. Bukti bahwa dukungan layar ASUS OLED pada ASUS ExpertBook B5 Flip adalah nyata. Dia pun memasukkan koin berhuruf O dengan gambar Fukuoka Tower sampai kembali terdengar suara khas itu. Klik. Suara yang sangat ditunggunya.

Sang Petualang | ASUS ExpertBook B5 Flip | ASUS OLED

 

Denpasar = Durability

Sebuah laci kecil terbuka dan di dalamnya kembali ditemukan dua tiket pesawat. Satu tiket kembali pulang ke Jakarta. Satu tiket lagi menuju Bali. Sosok itu hanya diberi istirahat selama tiga hari. Cukuplah. Dia bisa menikmati takoyaki takjauh dari Fukuoka Tower, lalu dilanjut ke Istana Karatsu dan bisa berfoto di Maizuru Bridge. Setelahnya bisa ke Mikaeri No Taki atau Airterjun Mikaeri yang sebelumnya makan enak dulu di Westo Udon yang terletak di Jalan Chiyo.

Ehm. Nikmat sekali. Di kamar Hotel Vessel, Fukuoka, dia tidak bosan-bosannya membuka Laptop ASUS ExpertBook B5 Flip yang tahan banting. Beberapa kali tasnya dilemparkan begitu saja oleh petugas hotel sementara di dalamnya masih ada laptop tersebut. Gak masalah, sih. Bahkan silakan saja kalau mau diuji pada temperatur tinggi (32-49 °C) atau pada temperatur rendah selama 3 hari. Atau diuji juga dengan perubahan temperatur yang sangat ekstrim.

Laptop tersebut telah memiliki sertifikasi MIL-STD 810H dengan berbagai pengujian ekstrim. Selain di atas, ExpertBook B5 Flip juga diuji dengan kelembaban tinggi selama 10 hari plus diuji di ketinggian hingga 15.000 kaki. Ngeri sekali, ya. Semua dilakukan demi kepuasan pelanggan. Termasuk uji getar selama satu jam, uji jatuh dari ketinggian 120 cm dalam keadaan menyala, uji engsel laptop dengan buka-tutup hingga 50.000 kali, dan uji durabilitas port dengan cara 15.000 kali cabut-pasang.

Jadi, cocok pisan ya kalau ASUS ExpertBook B5 Flip ini memang jenis laptop bisnis yang gampang dibawa ke mana-mana. Pekerjaan pun jadi fleksibel, tidak harus dikerjakan di kantor saja, tetapi bisa diajak nongkrong di tempat-tempat umum untuk dipakai sendiri atau dibawa saat bertemu dengan klien bisnis. Bukti bahwa kekuatannya berada pada kelas yang tinggi. Setelah menikmati segarnya berendam di onsen, dia pun sudah terbang kembali ke Jakarta.

Tangan kanannya kembali menggenggam koin berhuruf D dengan gambar patung Garuda Wisnu Kencana. Perjalanan kelima yang begitu cepat, menyergap kehidupannya yang awalnya biasa-biasa saja. Petualangan seolah-olah tidak akan bisa lepas dari dirinya. Sosok itu mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ke Bali dan sudah berapa kali. Pastinya, dia suka dan selalu bahagia kalau ada di Bali. Ada banyak kawan dan saudara di sana. Dengan perjalanan pesawat atau perjalanan kapal laut pun pernah dilakukannya.

Sesampainya di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, dia kembali mencari tempat yang nyaman untuk membuka laptopnya. Masih ada waktu satu jam sebelum meneruskan perjalanannya ke Bali. Dari hasil penelusuran informasi tentang patung Garuda Wisnu Kencana (GWK), ternyata lokasi patung bukanlah di Denpasar, tetapi terletak di Desa Ungasan, Kabupaten Badung. Dia menganggap bahwa huruf D yang dimaksud adalah Denpasar. Ternyata bukan. Atau Denpasar hanya sebagai kota persinggahan saja?

Entahlah. Patung GWK memiliki tinggi 121 meter dan lebar 64 meter. Sangat tinggi dan besar, mengalahkan tinggi Patung Liberty yang tingginya hanya mencapai 93 meter. Bahkan, patung GWK sudah dianggap sebagai tiga dari patung tertinggi di dunia. Indonesia patut berbangga. Sosok itu kemudian sampai di Bandara Internasional Ngurah Rai, lalu dilanjutkan menggunakan ojek online ke arah Desa Ungasan. Ada banyak kenangan selama mengamati pemandangan yang dilihatnya sepanjang perjalanan.

Sang Petualang | ASUS ExpertBook B5 Flip | ASUS OLED

 

Sebatik = Security

Di hadapan atau tepatnya di kaki Patung GWK, sosok itu mematung. Dirinya mengakui bahwa I Nyoman Nuarta adalah seniman patung paling legendari, beberapa karyanya bahkan juga ada di Bandung. Pematung itu bahkan memiliki NuArt Sculpture Park, sebuah museum galeri seni patung yang terletak di Bandung Utara. Belum juga beranjak jauh, matanya sudah melihat kotak merah di sudut kanan. Bergegas dia menghampirinya dan melihat ada ukiran DURABILITY di sisinya.

Dia sempat berpikir bahwa petualangan ini dikonsep dan dibuat oleh Pihak ASUS. "Bisa jadi Mas Firman atau Mas Danu yang membuatnya," bisiknya sendiri. Setelah memasukkan koin logam berhuruf O dan bergambar Fukuoka Tower, suara klik terdengar. Sebuah laci kecil terbuka dan di dalamnya ditemukan satu tiket pesawat. Tujuannya ke Kalimantan Utara. Dia mengernyit, "Apa hubungannya huruf S dengan Kaltara?" Sosok itu kemudian memperhatikan gambar patung Garuda dengan bendera Indonesia di paruhnya. Dia pun menerawang.

Wilayah Kaltara begitu luas. Dan memang, bagian utaranya berbatasan dengan negara Malaysia, tetapi mayoritas perbatasan itu berupa hutan. Monyet Bekantan berhabitat di hutan-hutan tersebut. Sosok itu kemudian mengangkat telunjuk tangan kanannya. Aha! Dia tahu, huruf S ini pastinya maksudnya adalah Pulau Sebatik. Dia pernah ke sana bersama dengan rombongan Mentri Desa PDTT. Pulau itu pun terbagi dua menjadi wilayah Malaysia dan sebagian lagi masuk wilayah Indonesia.

Maka ... dia pun bergegas kembali ke Denpasar. Perjalanan menuju Bandara Internasional Juwata Tarakan terbilang lama karena harus transit dahulu ke Cengkareng. Dia teringat bahwa Pulau Sebatik itu dipenuhi oleh para tentara yang bertugas menjaga keamanan di sana. Menjaga pulau tersebut berarti menjaga Indonesia. Sistem keamanannya pun dibuat fleksibel karena warga di sana bercampur baur. Belanja di warung di Desa Aji Kuning memakai mata uang rupiah, kembaliannya bisa berupa mata uang ringgit.

Sosok itu kemudian telah berada di pesawat yang akan membawanya ke Bandara Internasional Juwata Tarakan di Kalimantan Utara. Laptop ASUS ExpertBook B5 Flip dibuka. Aslinya, dia merasa aman membawa laptop tersebut karena tingkat keamanannya yang sudah terjamin. Sudah ada chip TPM (Trusted Platform Module) yang mampu melindungi berbagai data dan informasi penting lainnya. TPM 2.0 mampu menyimpan seluruh data (termasuk password) dan terenkripsi.

Fitur ini pun memaksimalkan kinerja keamanan laptop yang sudah terintegrasi dengan Windows Hello. Seperti diceritakan di bagian awal perjalanan, menyalakan laptop ini begitu unik karena tombol power-nya sudah menyatu dengan sensor fingerprint. Begitupula dengan fitur webcam shield yang dapat menutup webcam untuk menjamin privasi pengguna, termasuk kalau laptop ini juga dapat dikunci dengan slot Kensington Lock. Asyik banget ya, ternyata ASUS ExpertBook B5 Flip memiliki tingkat keamanan yang tinggi.

Perjalanan masih jauh. Sampai di Pulau Tarakan, dia harus jalan ke Pelabuhan Tengkayu. Ya, Pulau Sebatik harus dilalui menggunakan kapal dari Tarakan. Kalau mau santai, ada kapal Sinar Baru Express dengan waktu dua jam. Tapi kalau mau lebih cepat lagi, ada speedboat dengan waktu satu jam. Wuih. Akan tetapi perjalanan selama apapun, kalau dinikmati pasti akan terasa menyenangkan. Begitu pula dengan sosok itu, tanpa dirasa, tahu-tahu dia sudah berada di depan Tugu Garuda Perkasa dengan bendera Indonesia di paruhnya.

Terasa begitu magis berdiri di sini. Selalu ada kebanggaan kalau berdiri di sini, tapi perjuangan belum selesai. Beberapa wilayah desa di Pulau Sebatik masih terbilang belum maju. Barang-barang yang dijual di wilayah ini pun masih dikuasai oleh barang-barang dari Malaysia. Dia tidak mau mengurut dada kalau mengingat hal itu semua, tugasnya saat ini adalah mencari kotak merah yang tanpa susah, sudah dilihatnya di sela-sela batu penyangga tugu. Terdapat ukiran SECURITY di sisi kanan.

Dia kemudian memasukkan koin berhuruf S ke dalam lubang yang tersedia di atas kotak merah. Klik. Sebuah laci kecil terbuka dan di dalamnya ditemukan dua tiket pesawat. Satu tiket menuju Jakarta, satu tiket lagi dengan tujuan Banda Aceh. "Petualangan terakhir," bisiknya lirih. Dia tersenyum. Tidak banyak yang bisa dilakukan di Pulau Sebatik, kecuali memandang Kota Tawau yang telah menjadi bagian dari Malaysia yang tampak lebih modern. Jauh sekali jika dibandingkan dengan Sebatik.

Sang Petualang | ASUS ExpertBook B5 Flip | ASUS OLED

 

Weh = Warranty

Sosok itu sudah berada di atas pesawat yang akan membawanya ke Bandara Udara Internasional Sultan Iskandar Muda. Jawaban terakhir sudah ketemu. Huruf W yang ada di koin logam sudah pasti maksudnya adalah Pulau Weh karena gambar yang terdapat di koin tersebut adalah Tugu Titik Nol. Untuk menuju ke sana tentunya harus melewati perairan dari Pelabuhan Ulee Lheue (Banda Aceh) ke Pelabuhan Balohan (Sabang). Setelahnya harus menggunakan perjalanan darat ke atas bukit hingga sampai di tugu legendaris.

Perjalanan terakhir ini seolah-olah menjadi garansi bahwa petualangan ala detektif yang dilakukan sosok itu insya Allah sangat berkesan. Semuanya tergambar nyata bahwa Indonesia itu begitu indah dan menawan. Meski capek dan melelahkan, dia merasa bahwa ada hikmat dari petualangan memecahkan teki-teki. Tidak salah jika perangkat yang dibawanya adalah Laptop ASUS ExpertBook B5 Flip karena produk ini pun sudah dilengkapi dengan layanan garansi yang begitu eksklusif.

Selain garansi 2 tahun, ada penawaran bagi perusahaan untuk bisa mengajukan perpanjangan garansi, sesuai dengan masa yang diharapkan. Asyik banget, tuh. Termasuk adanya layanan ADP (Accidental Damage Protection) yang berlaku selama satu tahun, semacam asuransi yang bisa diklaim tetapi hanya sebanyak 1 kali selama masih berlaku. Produk pun bisa dijemput dan diantara kembali saat mau diservis, plus storage (SSD/HDD) bisa dicopot dan disimpan oleh pengguna agar merasa aman.

Sudahlah aman, eh ada garansinya. Ini benar-benar membuat siapapun merasa aman dan nyaman setelah membeli ASUS ExpertBook B5 Flip. Sama halnya dengan sosok itu yang sepanjang perjalanannya merasa aman meski harus bertualang sendirian. Masyarakat Indonesia di mana saja begitu ramah dan murah senyum. Tidak sulit bagi dirinya untuk menemukan kotak merah terakhir di Tugu 0 Kilometer karena warnanya begitu mencolok. Di sisinya terdapat ukiran WARRANTY dan tetap masih ada tulisan ASUS di bagian bawahnya.

Dia pun memasukkan koin logam berhuruf W, dan klik. Ternyata, tidak ada lagi laci yang terbuka. Kotak merah itu malah membuka ke segala arah dengan asap putih yang keluar dari dalamnya. Ada aroma kesturi yang tercium. Dia pun mengibas-kibaskan asap agar cepat menghilang, sehingga tampaklah pemandangan yang membuat jantungnya berhenti sesaat. Ada plakat emas yang bertuliskan, "ASUS ExpertBook B5 Flip: Power to turn your Business World". Termasuk satu tiket pesawat.

Petualangan sudah selesai, tiket tersebut akan membawanya pulang kembali ke Bandung. Ada 7 (tujuh) koin hijau dengan makna yang luar biasa. Semuanya pun berkolerasi erat dengan Laptop ASUS ExpertBook B5 Flip yang dibawanya, yaitu semacam menegaskan bahwa ada tujuh keunggulan yang dimilikinya. Mengutip kata-kata Pandu, Sang Pemilik Blok TecHijau, "ASUS ExpertBook B5 series akan sangat cocok digunakan sebagai laptop perusahaan, tetapi bagi UMKM ia tetap bisa dijadikan pilihan yang masuk akal." Kata kuncinya adalah aman, nyaman, dan ringan dibawa.[]

Sang Petualang | ASUS ExpertBook B5 Flip | ASUS OLED

 

Main Spec. ASUS ExpertBook B5 Flip (B5302FEA)

CPU Intel® Core™ i7-1165G7 Processor 2.8 GHz (12M Cache, up to 4.7 GHz)
Operating System Windows 11 Pro
Memory Up to 48GB DDR4 3200MHz RAM
Storage Up to 2TB PCIe SSD with RAID Support
Display 13,3″ (16:10) OLED Full-HD (1920×1080) 400nits DCI-P3:100% NanoEdge display, PANTONE Validated Display, VESA TrueBlack HDR, TÜV Rheinland eye care certified, 92% screen to body ratio, touchscreen with pen support
Graphics Intel Iris Xᵉ Graphics
Input/Output 1x USB 3.2 Gen 2 Type-A, 2x Thunderbolt™ 4 supports display / power delivery, 1x HDMI 2.0b, 1x micro HDMI (RJ45 LAN), 1x 3.5mm Combo Audio Jack
Camera 720p HD camera
Connectivity Wi-Fi 6 (802.11ax) + Bluetooth 5.0 (Dual band) 2*2
Audio Built-in speaker, Built-in array microphone, Cortana supported
Battery 66WHrs, 4S1P, 4-cell Li-ion
Dimension 30.90 x 21.06 x 1.69 ~ 1.69 cm
Weight 1.11kg
Colors Black
Price Start from Rp21.XXX.XXX
Warranty2 tahun garansi global with optional warranty upgrades

Post a Comment

0 Comments