Naik Pesawat Bersama

First Flight | Penerbangan Pertama

 

Mimpi sama dengan cita-cita
Tidak selamanya berada di alam maya
Ia suatu hari bisa menjelma nyata
Karena itu peganglah dengan erat

Ya, siapa pun boleh bermimpi. Siapa pun boleh bercita-cita. Tidak ada yang salah dengan hal itu, bahkan amat dianjurkan. Itulah mengapa pada diri anak-anak menjelang masuk sekolah dasar atau pre-school sekalipun sering ditanyakan oleh para guru, “Apa mimpimu? Apa cita-citamu? Mau jadi apa kamu kalau sudah besar?” Dan mereka pun menjawab dengan berbagai macam ekspresi. Semua mengungkapkan keinginannya. Ada yang malu, ada yang tersenyum, ada yang berteriak, ada yang tertawa dan menjawab dengan lantang.

Semua itu atas nama kebahagiaan. Itu pula yang menjadi tema utama salah satu program ‘Indonesia Mengajar’ yang dicanangkan Anis Baswedan sejak sepuluh tahun lalu, yaitu Kelas Inspirasi. Alhamdulillah meski tahun sebelumnya gagal menjadi inspirator, tahun 2014 sosok itu terpilih dan dapat melaksanakan tugasnya dengan tuntas. Luar biasa. Anak-anak SD selama satu hari diperkenalkan berbagai macam profesi yang bisa jadi belum terbayangkan oleh mereka. Yang menjelaskan tentu saja para pelaku profesinya sendiri.

Dia menceritakan profesinya sebagai seorang blogger dan penulis. Para murid antusias dan semua ingin bisa menulis. Kalau mau baca tentang pengalaman sosok itu sila lihat di Mengajar Itu Menyenangkan, Lho!. What a great experience! Berbicara tentang angan-angan atau cita-cita, alhamdulillah beberapa sudah dirasakan secara nyata olehnya. Salah satunya adalah naik pesawat terbang. Ya, benar, jangan tertawa. Masa kecilnya boleh dibilang amat menyenangkan dan full adventure.

Adventure | SMA Libels Jakarta | Purwakarta

Lahir dan tinggal di Jakarta, tapi agak ‘nyempil’ di ujung utaranya. Setiap detik hidupnya dihiasi oleh suara deburan ombak yang menyentuh bibir pantai. Jika malam, suara itu makin keras karena air pasang dan deburannya langsung menghantam tembok pembatas kompleks. Saat banjir akibat laut pasang, tak ada pasir atau daratan yang terlihat, semua menyatu dan ikan-ikan pun turut masuk ke dalam rumah. Amazing, right? Begitu pula saat bermain bersama kawan-kawan nelayan di atas perahu.

Berenang dan menyelam di antara perahu yang tertambat, hingga menuju bagan (semacam bangunan dari bambu di tengah laut) untuk menikmati kedalaman laut yang jernih dengan ratusan ikan berlalu-lintas di sana. Tak hanya itu, di sebelah barat kompleks terhampar beberapa hektar rawa-rawa yang masih asri. Pepohonan bakau tumbuh subur di sana dengan beberapa ekor monyet sering terlihat. Kalau diperhatikan, biji bakau tampak mirip dengan kepala monyet. Kebetulan yang mungkin bisa dibuktikan secara ilmiah.

Artis film laga terkenal seperti Barry Prima pun pernah syuting di sana. Jika agenda PERSAMI alias Perkemahan Sabtu Minggu digelar, ajang mencari jejak di rawa-rawa adalah bagian terfavoritnya. Layaknya anggota ‘Lima Sekawan’ yang sedang menuntaskan sebuah kasus. Namun, bukan itu yang ingin dibicarakan. Meski tinggal di Jakarta, jarak untuk menuju dunia sebenarnya perlu ditempuh sejauh 2 km sampai bertemu dengan jalan raya yang bernama RE Martadinata. Hidupnya memang terisolir.

 

Dari Terisolir Menuju Liburan Impian

Wajar jika kemudian dirinya tidak kuat naik kendaraan bermotor. Baru sebentar saja sudah mabuk. Masih teringat betapa malu dirinya saat mabuk di depan teman perempuannya saat masih berseragam putih-biru. Dengan kondisi seperti di atas, sosok itu tak yakin kalau dirinya bisa bepergian jauh. Padahal jiwa petualangan mengalir kuat di dalam dirinya. Jalan kaki pun dilakoninya untuk mencapai ratusan kilometer demi tujuan yang tidak memerlukan kendaraan bermotor.

Termasuk menembus hutan rawa dan pemakaman orang-orang Belanda agar sampai di wilayah Ancol dengan gratis. Sampai menikah, dirinya belum pernah keluar dari Pulau Jawa. Jarak terjauh yang pernah ditempuhnya hanyalah Merak di ujung barat dan Surabaya di ujung timur. Itu pun hanya karena di kedua kota tersebut ada keluarganya. Jasa transportasi yang digunakan lebih banyak kereta karena untuk naik bus sudah pasti akan ditolaknya. Kalau pun iya, obat antimabuk dan plastik sudah siap menemaninya.

Dan masalah ini pun menular pada kedua putrinya. Fiuh! November 2011, bulan dan tahun yang menjadi tonggak baru perjalanannya. Sebagai seorang blogger dirinya mendapatkan keberuntungan dapat mengikut Asean Blogger I yang diselenggarakan di Bali. Di sinilah sosok itu mengalami sendiri bagaimana rasanya pertama kali menaiki pesawat terbang. Seperti yang pernah ditulisnya pada First Flight, semuanya tergambar di sana. Belum kejadian-kejadian lucu saat baru memasuki bandara #ehm.

Sebagai tonggak baru, dua tahun kemudian sosok itu merasakan kembali menaiki pesawat terbang ke Bali untuk menghadiri acara FLP. Itulah momen kebahagiaan yang paripurna, bukan lagi saat menaiki pesawatnya, tetapi karena petualangannya di Bali sebagai seorang pengelana. Bermalam di rumah dua orang kawan bloggernya dan nekat menjadi guide gadungan agar bisa berwisata gratis mengelilingi Bali. Kawan yang menjelma saudara hingga rumahnya laksana kampung halaman.

Traveling | Pantai Kuta

Tunggu Aku Pulang, Bro. Sejarah baru di dalam kehidupannya. Sepercik kehidupan sangat berarti bagi sejarahnya, meski hanya secuil. Di rumah, anak-anak begitu antusias mendengarkan cerita sosok itu. Pengalaman naik pesawat. Pengalaman bisa ke Bali secara gratis. Sang Belahan Jiwa pun tersenyum bahagia di depan anak-anak, tetapi saat hanya berdua saja bibirnya langsung manyun. Ia sangat ingin dapat bepergian bersama. Honeymoon yang tidak pernah didapatkan seperti kisah-kisah dongeng para pengantin baru.

Naik pesawat lalu menikmati keindahan tempat wisata di tempat tujuan. Ah, begitu indahnya. Bahkan, untuk bisa berbulan madu di Bandung saja sulit mendapatkan tempat dan waktunya. Ada banyak faktor tentu saja. Senang dan bahagia rasanya mendengarkan anak-anak yang bermimpi menaiki pesawat untuk mengantarkan mereka ke Bali. “Ke Jepang,” kata Adik Anin. “Ke Arab,” kata Kakak Bibin. Namun ada rasa sedih saat melihat kenyataan. Ke manapun tujuannya tidak masalah, yang terpenting adalah kesempatan untuk menaiki pesawat terbang.

Dan untuk memberikan rasa keadilan, tentu akan lebih baik jika tujuan utamanya adalah Bali. Mengapa? Karena sosok itu sudah mengenal lokasinya dan adanya 'saudara' di sana. Beberapa waktu yang lalu, bahkan sosok itu pernah iseng di tengah malam mencari tiket termurah untuk semua anggota keluarga di salah satu maskapai penerbangan internasional. Sudah di-booking, eh tidak ada biaya  untuk membayar itu semua. Yah, namanya juga Liburan Impian yang semoga saja menjadi kenyataan di kemudian hari. Amiiin.[]

Post a Comment

0 Comments