Ekonomi Sirkular ala Pable

Pable | Ekonomi Sirkular | Bang Aswi

Kamis, 1 Juli 2021. Menjelang siang, saya menghubungi Aryenda Atma, Founder Pable, salah seorang kawan yang sudah dikenalnya sejak ibu aktif ini bekerja di sebuah brand elektronik dunia. “Teh Atma, boleh nanya?” tanya saya. “Hola, Mas. Yes, gimana, Mas Aswi?” jawab Atma bertanya kembali. “Boleh tau gak apa itu ekonomi sirkular dan bagaimana Pable menerapkannya?”

“Ekonomi Sirkular itu cakupannya luas banget, Mas. Intinya adalah bagaimana kita bisa memperpanjang nilai pakai barang selama mungkin. Caranya bisa bermacam-macam, misal kalau di industri tekstil/fashion adalah dengan mengontrol daya beli, beralih ke pakaian dengan material ramah lingkungan/mudah terurai, membeli barang second, dan mengalihfungsikan pakaian yang sudah rusak menjadi barang lain.”

“Nah, Pable sendiri menerapkan sistem closed loop, yaitu salah satu metode dari ekonomi sirkular dengan memproduksi secondary material dari limbah, sehingga eksploitasi terhadap virgin material tidak terjadi. Material limbah tekstil yang didapat oleh Pable itu 95% dari pre consumer waste (biasanya didapat dari industri, garmen, manufaktur).” Saya tersenyum mendapatkan jawaban yang singkat dan padat ini.

Alhamdulillah, tidak salah saya langsung menghubungi Atma saat pertama kali mendengar kata circular economy atau ekonomi sirkular ini. Kata ini saya dapatkan saat mengikuti Pelatihan Jurnalis secara daring dalam Pengelolaan Sampah dan Ekonomi Sirkular Greeneration Foundation x Danone Indonesia pada 28 Juni 2021 - 15 Juli 2021. Sebuah pengalaman berharga agar nantinya saya bisa berkontribusi pada Bumi tercinta ini.

 

Apa Itu Ekonomi Sirkular

Ekonomi sirkular merupakan sebuah konsep alternatif dari ekonomi linear yang dirancang agar limbah dan polusi menjadi tidak ada, menjaga produk digunakan selama mungkin, kemudian meregenerasi produk dan bahan yang berasal dari sistem alam. Berdasarkan hasil studi laporan “The Economic, Social, and Environmental Benefits of Circular Economy in Indonesia”, penerapan ekonomi sirkular dapat berpotensi mengurangi sampah di Indonesia 18-52%.

Pable | Ekonomi Sirkular | Circular Economy

Atma sendiri sudah menjelaskannya di awal, dan gambar di atas bisa menjelaskan secara singkat apa itu ekonomi sirkular dan perbedaannya dengan ekonomi linear dan ekonomi recycling. Sebagai contohnya adalah apa yang telah dilakukan oleh Pable. Mereka mengolah limbah tekstil dengan cara disortir berdasarkan jenis bahan baku dan warna, lalu dicacah dan kemudian diolah menjadi fiber (secondary material). Fiber ini lalu dipintal menjadi benang dan akhirnya ditenun menjadi kain.

Pable adalah sebuah perusahaan startup yang melirik limbah tekstil sebagai potensi besar. Mereka menyulap bahan limbah tersebut menjadi benang dan kain tekstil; yang kemudian bisa digunakan untuk dibuat menjadi pouch, keset, serbet, keranjang, hingga karpet. Itulah bentuk ekonomi sirkular yang dilakukan oleh Pable. Atma menyadarinya saat mengetahui bahwa sekitar 8,2 persen sampah di Jakarta terdiri dari limbah tekstil dan 470 ribu ton bahan tekstil terbuang percuma selama proses pembuatannya.

Proses produksi dari Pable pada akhirnya memang mengusung konsep zero waste atau tanpa limbah. Hasil produksi tersebut kemudian akan dijual untuk memberikan konsumen pilihan produk yang ramah lingkungan dan berkonsep ekonomi sirkular. “Tak hanya itu, mereka (konsumen) juga bisa turut bertanggung jawab akan kelangsungan Bumi dengan cara yang lebih ramah, sesuai dengan tagline Pable, A Sustainable Solution,” tambah Atma.

Tidak hanya Pable, perusahaan besar seperti Aqua juga berkomitmen mengatasi masalah sampah plastik yang sedemikian kompleks. Bentuk nyatanya, mereka meluncurkan Aqua Life, yaitu sebuah inovasi membuat kemasan botol dari 100% bahan daur ulang dan dapat didaur ulang lagi. Dengan begitu, botol plastik yang biasanya menjadi sampah tak terurai terus diolah agar tidak menjadi waste.

Aqua | Aqua Life | Ekonomi Sirkular

PT Veolia Services Indonesia (Veolia Indonesia) bekerja sama dengan PT Tirta Investama (Danone-Aqua) meresmikan pabrik daur ulang botol plastik PET (Polyethylene Terephthalate) terbesar dan termutakhir di Indonesia. Pabrik ini dibangun di atas lahan seluas 22.000 meter persegi dengan luas bangunan 7.000 meter persegi. Kapasitas produksinya adalah 25.000 ton/tahun recycled PET (rPET) yang telah memenuhi standar keamanan pangan (foodgrade) dan sertifikasi halal.

Danone-Aqua mendukung operasional pabrik Veolia Indonesia dengan menjadi konsumen utama sekaligus memastikan terbangunnya rantai pasok botol plastik PET bekas yang inklusif melalui upaya peningkatan kesejahteraan pemulung dan  pekerja TPS3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle) di 4 kabupaten di Indonesia, di bawah naungan proyek Inclusive Recycling Indonesia atau Daur Ulang Inklusif Indonesia.

Memang butuh proses karena saat ini kemasan botol Aqua baru mengandung bahan daur ulang sampai dengan 25%. Targetnya, pada 2025 nanti, Aqua benar-benar sudah memproduksi dan memakai 100% bahan daur ulang. Jaminan dari kemasan ini adalah isinya pun sangat aman untuk dikonsumsi. Terbukti bahwa kemasannya telah memenuhi standar yang ditetapkan oleh BPOM, Halal, SNI, dan FSSC 22000.

Hanya saja perlu diluruskan bahwa kemasan botol daur ulang Aqua Life bukanlah kemasan dari sampah botol plastik bekas yang dipakai kembali. Produk ini terbuat dari botol plastik bekas Aqua maupun merek lain yang telah diproses ulang (dipilah, dibersihkan, dicacah, dan diolah dengan memakai teknologi tinggi) menjadi material pellet. Materi inilah yang menjadi bahan baku dengan nama Aqua 100% Recycled.

Ekonomi sirkular juga bisa dilakukan oleh kita semua selaku manusia yang sadar atau tidak sadar, terlibat langsung dengan produksi sampah (khususnya sampah rumah tangga). Caranya adalah dengan memilah sampah, mengurangi (reduce), mengguna ulang (re-use), dan mendaur ulang (recycle). Pemilahan sampah disesuaikan dengan kapasitas dan pengelolaan di wilayah masing-masing. Misalnya dipilah berdasarkan sampah B3, sampah sulit membusuk, dan sampah mudah membusuk.

Cara paling mudah dan bisa dipraktikkan oleh orang banyak adalah dengan pemanfaatan bank sampah. Bank sampah terbukti memberikan kontribusi terhadap pengurangan sampah nasional sebesar 1,7% (1.389.522 ton/tahun) dengan pendapatan rata-rata sebesar Rp1.484.669.825 per tahun. Keuntungan ekonomi sirkular tersebut diperoleh dengan menerapkan prinsip 3R (reduce, reuse, recycle).

 

Kerjasama Pable dengan Desa Tenun

Lebih lanjut, Atma menjelaskan, “Ekonomi sirkular akan lebih lengkap ketika shareholders bergerak bersama. Tujuannya pun harus sama, yaitu demi bumi dan lingkungan. Dengan melibatkan sentra desa, saya personal merasa lebih lengkap, karena sudah menjadi tanggung jawab kita—yang lebih beruntung bisa menimba ilmu lebih dalam—untuk disalurkan kepada komunitas lain yang lebih membutuhkan.”

“Tidak hanya dari sisi ekonomi saja, tapi saya sebagai manusia menjadi lebih lengkap karena sedikit pengetahuan saya ini ternyata memberikan dampak untuk orang lain. Pable lahir justru karena kejenuhan saya terhadap pola linier. Pola yang konstan dan teratur. Pola yang monoton dan berdasar pada keegoisan manusia untuk selalu dipenuhi standarnya. Pable dibuat untuk membuktikan bahwa tidak semuanya tentang ego manusia.”

“Ada sikap yang harus kita lakukan untuk melihat masalah yang lebih besar yaitu lingkungan. Dan masalah lingkungan ini terlalu besar untuk dilakukan segelintir orang. Perlu sebuah narasi nyata yang memperlihatkan bahwa limbah yang diolah dengan benar, dengan proses R&D yang benar, dengan visi dan misi yang benar, bisa meng-influence orang lain untuk melakukan hal serupa. Kuncinya open source, membuka diri, niat baik, dan konsistensi.”

Alhamdulillah sekali saya bisa dipertemukan langsung dengan Teh Atma yang ternyata begitu peduli pada lingkungannya. Oleh karena itulah Pable terlibat dalam pemberdayaan masyarakat desa, yaitu dengan mengajak mereka berpartisipasi dalam proses penenunan kain. Desa Karangrejo di Pasuruan adalah sentra desa Pable yang saat ini baru melibatkan dua kepala keluarga dalam proses penenunan kain dengan total pekerja sebanyak 13 orang.

Sentra desa juga menjadi sarana untuk saling transfer knowledge. Proses Pable mencari Desa Tenun ini tidaklah mudah. Ada beberapa desa dan sentra industri di Jawa Timur yang memiliki histori panjang tentang proses penenunan kain. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah desa yang sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai penenun kain pel dan kain serbet, yang sudah dilakukan secara turun menurun dari empat generasi sebelumnya.

Mulyono | Pable | Desa Tenun

Salah satu penenun itu adalah Pak Mulyono, yang sudah menenun sejak usia 20 tahun. Ia pun begitu menguasai Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dengan memperbaiki bagian-bagian mesin tenun yang bermasalah. Akhirnya ia pun berhasil menciptakan mesin tenun semi manual. Setengah menggunakan mesin dan setengah lagi tetap menggunakan keterampilan dari penenun. Tujuannya agar bisa mengoptimalkan proses penenunan kain, sehingga hasil kain tenun per hari dapat mencapai target dan penenun harian tetap bisa mendapat penghasilan yang cukup.

Pak Mulyono sebagai Pencipta dari Alat Tenun Semi Manual kemudian bertemu dengan Pable dan mencoba memahami visi dan misi perusahaan tersebut. Ia berkata, “Daripada sampah dibuang, lebih baik diolah menjadi kain lagi.” Ia pun menyetujui untuk bekerja sama dan perjuangannya segera dimulai karena benang hasil daur ulang memiliki beberapa kelemahan seperti mudah putus dan kadang tersangkut di sisir. Akan tetapi hal tersebut tidak membuat semangat Pak Mulyono mengendur.

“Pable tuh gak hanya tentang Pable sendiri,” lanjut Atma menjelaskan. “Tapi tentang ekosistem, tentang desa, tentang manufaktur, tentang industri, dan tentang regulasi. Target Pable adalah insentif sosial ekonomi. Limbah baru hanya berupa debu dengan rasio 1% dari 100% limbah terolah. Debu 1% tersebut sudah tidak bisa ditangkap oleh dusk detector.”

Lalu bagaimana dengan harga jual? Sebenarnya kalau dibandingkan dengan kain tenun manual, harganya berada pada kisaran yang sama. Mahal atau murah itu relatif karena yang dinilai sebenarnya bukan produk akhirnya, tapi prosesnya. “Proses pengolahan daur ulang, peralatan, knowledge dan impact yang didapat bisa terukur dari berapa banyak limbah yang terserap, berapa banyak emisi karbon yang dihemat, dan berapa banyak konsumsi air yang dihemat,” ujar Atma menutup obrolan kami.

 

Sampahku, Tanggung Jawabku

Ekonomi sirkular bukanlah pekerjaan sim-salabim. Konsep ini membutuhkan kerjasama dari banyak pihak, mulai dari pengambil kebijakan tertinggi, yaitu pemerintah, hingga kepada kelas masyarakat terkecil, yaitu kita. Aryenda Atma pun sudah menekankan tentang kerjasama ini dengan perkataan, “Ekonomi sirkular akan lebih lengkap ketika shareholders bergerak bersama.”

Saya sebagai bagian dari masyarakat juga harus berperan, khususnya dalam pengelolaan sampah. Buang pola pikir yang selama ini dipakai mayoritas masyarakat padahal sebenarnya adalah salah, yaitu sampahku adalah tanggung jawabmu. Bahwa sampah adalah tanggung jawab pemkot, pemda, pemulung, pengangkut sampah, dan perusahaan penghasil sampah. Jangan. Kini sudah saatnya untuk berpikir bahwa sampahku adalah tanggung jawabku.

Lalu, fungsi saya sebagai seorang blogger atau jurnalis independen, adalah menyebarkan informasi ini seluas-luasnya dan sebenar-benarnya. Tidak perlu menutupi informasi yang menunjukkan bahwa Bumi yang kita tinggali ini sedang sekarat. Persoalan sampah bukanlah apa yang terlihat secara kasat mata. Jauh lebih dari itu, persoalan sampah sudah meluas sampai pada kenyataan bahwa planet ini akan hancur secara perlahan. Lalu apa yang bisa kita wariskan untuk anak cucu kita?[]

Post a Comment

2 Comments

  1. Tulisannya menarik untuk dibaca sampai selesai. Bagaimana peran serta semua pihak dibutuhkan untuk menghasilkan lifecycle positif yang saling mendukung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hatur nuhun sudah mampir. Iya, butuh peran semua pihak untuk membereskan masalah sampah ini ^_^

      Delete