Ramadhan Masa Kecil: Keluarga

Ramadhan Masa Kecil | One DOA | Keluarga Lareng Ch

Keluarga tidak akan lepas dari kehidupan seseorang. Bagi seorang Muslim, momen Ramadhan akan terasa indah jika dikaitkan dengan keluarga. Aswi kecil pun begitu. Momen indah itu akan terasa saat buka bersama, sahur bersama, budaya membaca Al-Quran di rumah, dan akhirnya adalah merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri dengan shalat Ied bersama, makan bersama lagi, plus agenda pulang kampung.

Namun dari semua momen indah itu, sosok itu begitu mengingat jelas bagaimana kasih sayang seorang ibu pada anaknya yang susah bangun pagi di hari biasa dan tentu saja susah bangun sahur. Memang anak-anak itu pada dasarnya kalau sudah tertidur pasti begitu pulas, ya. Bisa juga karena faktor kebiasaan dimana para proses ini, orangtua tengah mengajarkan agar anak mau bangun pada jam-jam tertentu.

Ibu atau ibunda adalah sosok yang paling dekat dengannya. Masih teringat saat dia masuk perlahan ke ruang ICU dengan kaki yang terasa diganduli beban begitu berat. 26 tahun lalu. Dia memegang tangan ibundanya, masih ada sedikit kehangatan, lalu menggenggamnya erat. Perlahan, didekati wajah ibunda. Dikecup pipi dan dahinya dengan penuh kasih, lalu berbisik di telinganya.

“Bu, ini Agus. Ini Agus, Bu....” Selebihnya dia malah bertambah sesenggukan. Tangan ibunda tiba-tiba bergerak, meremas tangannya. Badan ibunda bergerak seolah ingin berontak. Tapi ... tapi matanya tak jua membuka. Padahal, itu yang sangat diharapkan Aswi dewasa. Hingga beberapa hari setelahnya dia pun ikhlas. Pukul satu malam tiba di komplek perumahan, langsung berangkat ke Madiun.

Jenazah ibunda sudah berangkat ke sana. Sosok itu yang paling terakhir ditunggu. Bisa jadi ada kemurahan Sang Maha-lah yang bisa mempertemukan dia dengan ibunda sebelum dikebumikan. Mobil yang ditumpanginya lebih dahulu sampai di Madiun, baru setelah itu ambulan yang membawa jasad ibunda tiba. Wajahnya begitu tenang. Beliau tersenyum. Dia pun bahagia bisa menshalatkannya.

Baca juga:
Sudahkah Aku Berbakti Padamu, Bu?
Sudah Bersyukurkah Kamu Hari Ini?
Sosok Itu Penyintas Covid-1

Pada momen Ramadhan, ingatannya akan ibunda mengerucut pada cara beliau membangunkannya. Bagaimana beliau mengendap-endap dan tiba-tiba saja langsung membasahi wajah Aswi kecil dengan ludahnya. Dia yang sedang terlelap spontan langsung berlari terbirit-birit ke kamar mandi dan mencuci muka. Saat itu dia jijik. Namun itulah cara ibunda agar dia tidak bangun kesiangan atau agar bisa sahur.

Ibunda pula yang mengajarkan bagaimana melemparkan tiga bola secara bergantian bak pemain sirkus saat dirinya duduk di bangku SMP. Kakak Bintan dan Adek Anin, para cucu, akan sangat senang jika dia memainkan bola tersebut. Namun ... momen Ramadhan yang paling epik adalah di ujungnya, yaitu hari berkumpul keluarga besar di rumahnya. Keberadaan beliau adalah laksana kiblat.

Ibunda adalah anak kedua di keluarganya. Beliau adalah anak tertua yang tinggal di Jakarta karena kakaknya tinggal di Madiun. Otomatis keluarga besar yang ada di Jakarta pasti akan berkumpul di Tanjung Priok saat lebaran. Begitupun setelah rumah mereka pindah ke Kelapa Gading, semua berkumpul bersama di sana. Makan ketupat bersama plus minum sirup legendaris. Dan kini, sosok itu merindukan air liurnya.[]

#OneDOA #HariKe10 #BloggerBDGxRamadhan #KOMBESmenulis

Post a Comment

0 Comments