Menulislah pada Setiap Jejak Perjalanan

Gola Gong

Matahari di siang itu sebenarnya begitu terik, namun angin yang menyertainya sedikit mengurangi rasa panasnya. Sosok itu merasa terbang saat dirinya menembus lalu lintas Kota Bandung yang tidak terlalu padat. Harapannya adalah bertemu penulis terkenal merangkap sahabat yang karyanya belum lama ini tayang di bioskop, membuat hatinya melayang.

Sudah lama tidak bersua dengannya. Kalau tidak salah, terakhir bertemu itu pada 2013 di Bali. Sudah 10 tahun rupanya. Oya, gelaran ini dalam rangka Perpusnas Writers Festival 2023 selama 6-8 September dengan tema "Menulis, Mengukir Peradaban". Dalem banget, ya. Tentu saja, ini karena seseorang bisa menggambarkan apa yang dialami atau dirasakannya dengan tulisan.

Sebuah pandangan berbeda yang bisa dibaca oleh siapapun. Persis apa yang dilakukan oleh Gola Gong yang sudah gemar bertualang sejak masih berstatus mahasiswa. Dunia perkuliahan ditinggalkan begitu saja demi mengenal dunia ini dan kemudian menuliskannya menjadi novel, puisi, cerpen, dan karya-karya non-fiksinya, termasuk 'Balada Si Roy' yang melambungkan namanya.

Menulis itu dunia sunyi. Hanya berteman pena dan kertas. Berkawan mesin tik dan tinta. Bersahabat dengan laptop dan email-WA. Selebihnya adalah dunia pasar imajinasi yang terus dilatih dan diolah. Kemudian ada persahabatan yang dimulai dari kagum dan cita-cita. Dari pembelajaran dan kebersamaan yang menjadikan diri ini menjadi siapa. Dari kerjasama dan kesamaan hobi di lajur komunitas dan aktivitas.

Demi merangsang orang-orang yang hadir di Gedung De Majestic yang pada 31 Desember 1926 menjadi bioskop pertama di Bandung yang memutar film 'Loetoeng Kasaroeng', Gola Gong meminta mereka untuk menuliskan apa cita-citanya, mengapa traveling, mengapa harus menulis, dan seterusnya. Di sela-sela kegiatan menulis, beliau juga menyelipkan bonus berupa buku-buku karyanya.

Gola Gong dan Tias Tatanka

Dari pertemuan yang hanya dua sampai tiga jam tersebut, sosok itu menuliskan bahwa cita-citanya adalah berkeliling dunia. Alasannya adalah untuk mencari banyak pengalaman dari melihat alam dan berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda. Traveling adalah proses belajar untuk memahami dirinya sendiri dan tentu saja melatih mental.

Traveling itu meresapi komunikasi dengan orang-orang yang ditemui, sehingga wajar jika Gola Gong suka ngobrol atau bertanya pada orang-orang yang ditemuinya dan mengurangi interaksi dengan ponsel. Lelaki itu harus pergi tetapi juga harus kembali karena ada perempuan yang mengasihi dan dikasihi di kampung halaman atau rumahnya.

Beliau yang difabel karena salah satu lengannya harus diamputasi saat masih kelas 4 SD, ditambah beberapa penyakit yang sedikit demi sedikit menyerangnya, mengatakan bahwa traveling adalah obat karena saat jalan-jalan tubuhnya menjadi sehat dan kuat. Traveling adalah perjalanan mengenali diri dan mengenali orang-orang/lingkungan yang ditemui atau didatanginya.

Travel Writing adalah catatan perjalanan seorang petualang. Tulislah apa yang dilihat dan dirasa semisal rasa lapar, sulit mencari penginapan, tertipu, dll. Saat traveling, jangan berdiam diri di kamar saja. Jangan sia-siakan perjalananmu. Menulis bagi sosok itu pada akhirnya membuat dirinya jadi lebih hidup dan bergairah saat melakukan perjalanan. Sebuah kebahagiaan yang paripurna.

Bisa menulis saat traveling adalah kemenangan bagi dirinya karena telah berhasil merekam semuanya. Travel writing itu menulis dengan apa adanya, tanpa dibuat-buat. Semua ditulis dengan detail dan melibatkan perasaan. Beberapa poin yang penting adalah how to get there, how to stay, how to shop, dan how to pray. Ibadah bagi seorang Muslim harus menjadi prioritas.

Adew Habtsa | Kang Maman | Daniel Mahendra | Danny Lesmana

Semua itu adalah strategi dalam melakukan perjalanan dengan sebaik-baiknya. Dengan begitu, para petualang tentu membutuhkan 'time management' yang baik dan tentu saja harus terbiasa mandiri. Tantangan saat traveling adalah ketika ada sesuatu yang tidak terduga seperti tidak ada jaringan internet, tersasar, hujan deras, atau bahkan kehabisan uang. Cari jalan keluarnya.

Jika sudah menemukan, maka hal tersebut akan menjadi pengalaman yang sangat berharga di kemudian hari. Dalam menulis catatan perjalanan, jangan lupakan dengan judul yang menarik. Selain detail yang telah dijelaskan sebelumnya, travel writing bisa ditulis dengan cara fiksi atau bercampur faktual. Tambahkan beberapa adegan dialog yang menarik.

Traveling pada akhirnya akan menjadi menarik jika dituliskan dengan sangat menarik. Menulis adalah seni merangkai kata, maka menulislah dengan hati yaitu dari pengalamannya sendiri sehingga esensinya akan sampai ke pembaca. Biasakan untuk menulis kalimat positif meskipun apa yang akan disampaikan itu adalah sesuatu yang negatif.

Fiksi atau sastra adalah imajinasi tetapi fiksi adalah tiruan dari realitas. Jangan buat imajinasi kalau seseorang belum pernah mengalaminya, lalu berkreasilah dengan mengubah tokoh, latar belakang, dan seterusnya. Buat tulisan yang membuat pembaca begitu sangat percaya dengan apa yang ditulis. Menulislah, maka engkau ada. Setelah itu, mau traveling ke mana lagi?

Ya, pada akhirnya ... dunia kepenulisan tidak lagi sunyi. Meski dimulai dengan peluh dan keterbatasan, dunia ini menjelma senyum dan kebahagiaan. Masing-masing orang sejatinya sedang berjuang bersama-sama meski di jalan yang berbeda. Hatur nuhun atas senyum dan ilmu yang dibagikan kemarin, meski sejenak. Setiap penulis tetap membutuhkan diskusi untuk belajar dan membangkitkan semangat. Mari menulis pada setiap jejak perjalanan kita. Tabik.[]

~ Sebuah catatan saat Workshop Travel Writing bersama Gola Gong

Post a Comment

0 Comments