
Benteng Belanda Cikahuripan Lembang masuk dalam kategori Situs Cagar Budaya yang dilindungi UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dengan No. Registrasi PO 2019093000003. Lokasinya sendiri berada di Lahan Perhutani Blok Cisaroni, Kampung Cisaroni RW 08, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Benteng tersebut berada di titik tertinggi dinding selatan Kaldera Sunda.
Sabtu, 15 Agustus 2026, Sosok Itu sudah berangkat dari rumah pukul 05.30. Tadinya mau naik sepeda, tetapi alhamdulillah ternyata Sang Belahan Jiwa bersedia mengantar. Langit belum terang, tetapi mereka berdua sudah mengukur jalanan kota Bandung dari Ciganitri, membelah jantung kota, lalu berakhir di pintu selatan Stasiun Bandung. Jalanan yang dilewati adalah bagian dari kota yang telah mengukir sejarah bagi mereka berdua, yang kebersamaannya sudah menjelang angka 24 tahun.
Setelah pertemuan singkat di EIGER Adventure Flagship Store Sumatera Bandung dengan Kang Gan Gan Jatnika pada 8 Agustus kemarin, disepakati bahwa dia ingin merasakan aura event Geowana Ecotourism. Geowana Ecotourism adalah komunitas ekowisata yang berfokus pada eksplorasi dan edukasi lingkungan, sejarah, serta budaya lokal melalui berbagai kegiatan wisata alam. Mereka terus mengingatkan pentingnya pelestarian lingkungan dan warisan budaya lokal.
Pukul enam lebih sedikit, dia mendengarkan rencana belahan jiwanya yang akan beberes rumah bersama sepupunya di dekat pintu masuk parkir selatan Stasiun Bandung. Lalu dia pun memeluknya sebagai tanda perpisahan sementara, melepasnya pergi, lalu berjalan dengan langkah ringan menyusuri jalan pedestrian di sebelah kanan jalan parkir. Sesempatnya dia memotret lokomotif hitam besar yang berdiri megah di pintu selatan Stasiun Bandung berkode TC.10.08. Inilah lokomotif uap berbahan bakar kayu jati buatan Jerman.

Lokomotif ini dibuat oleh perusahaan kereta api Hartmann dan dalam kurun waktu 1915 - 1922 didatangkan ke Indonesia oleh Staats Spoorwegen (SS). Seri TC 10 katanya hanya tersisa yang berada di Stasiun Bandung, di Taman Mini Indonesia Indah (TC 10.11), dan Balai Yasa Manggarai (TC 10.15). Monumen Lokomotif di Stasiun Bandung diberi nama Purwa Aswa Purba, yang bermakna 'kuda kuno pertama' dalam Bahasa Sansekerta dan diresmikan pada 28 September 1992.
Benteng Cikahuripan
Desa Wisata Benteng Cikahuripan
Setelah puas memotret Monumen Lokomotif, Sosok Itu sempat sarapan bolen lilit di Yomart, lalu bertemu Kang Gan-Gan dan beberapa peserta sudah pada masuk ke dalam angkot elf St. Hall – Lembang. Ada lima angkot yang disewa dan masing-masing peserta sudah dibagi-bagi agar tidak rebutan, termasuk rombongan yang naik di depan Masjid Al-Furqon UPI. Menjelang pukul tujuh, angkot pun berangkat.

Meski berangkatnya berbeda-beda, di pertigaan Jl. Raya Lembang dan Jl. Kol. Masturi semua angkot berhenti untuk perhitungan kembali jumlah pesertanya. Setelah dipastikan lengkap, angkot elf berangkat secara berbaris memasuki Jl. Kol. Masturi, melewati Imah Seniman, dan akhirnya setelah ketemu Kopdes Merah Putih berbelok memasuki Jl. Pojok. Perjalanan makin ke atas melewati Jl. Terusan Cisaroni dan sampai di Kampung Cisaroni.
Di sana, peserta pun turun karena angkot elf tidak bisa naik lagi ke atas. Sebagian peserta ada yang ke masjid untuk buang hajat, sementara yang lain berkumpul di lapang kecil untuk pengarahan dan pemanasan ringan. Di titik inilah hiking dimulai, tidak jauh dari kandang sapi milik Ibu Dasimah dengan patokan gerbang sederhana bertuliskan "Selamat Datang di Desa Wisata Benteng Cikahuripan". Titik yang setelah dicek di peta berada pada ketinggian 1450 mdpl. Ternyata banyak yang tertipu.

Meski kata Kang Gan Gan perjalanan ke benteng hanya 1 km, kenyataannya yang tertera di Strava adalah 2 km dengan elevasi yang luar biasa miring di beberapa titik. Dibutuhkan waktu sampai 1 jam untuk sampai di lokasi Benteng Replika. Titik ini berada pada ketinggian 1650 mdpl, artinya ada kenaikan 200 meter dengan jarak 'hanya' 2 km. Elevasi gain yang tercatat saja sampai 348 meter. Wajar jika ada peserta yang terpaksa naik ojek kampung agar semua aman sampai benteng, beberapa pun pakai alasan foto-foto meski aslinya ya mengambil napas.

Patung pejuang yang berdiri gagah sambal memegang tongkat bendera menyambut semua peserta Trip Kemerdekaan Geowana, begitu pula dengan bendera merah putih yang terpampang di tengah lapang. Sosok Itu sendiri pernah berada di titik ini pada 2017 silam alias 9 tahun lalu saat mengikuti Offroad Adventure menggunakan mobil Land Rover dari Trizara Resorts Lembang melewati Perkebunan Teh Sukawana. Takjauh dari benteng replika, terdapat beberapa warung yang siap memberikan kenyamanan pada perut peserta.
Di sana, para peserta dikenalkan dengan Kang Sigit, Ketua Pokdarwis Tjikahoeripan Gebied Desa Cikahuripan, yang kemudian bercerita bahwa bangunan bersejarah ini harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu bukti perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Para peserta yang berjumlah sekira 60 orang dengan rentang usia dari 8 tahun sampai di atas 70 tahun (mayoritas adalah ibu-ibu keren) kemudian menyantap welcome drink berupa teh, kopi, ubi, jagung, dan pisang rebus.
Patung pejuang dengan benteng replika bercat merah dibangun oleh TNI pada Juni 2024 sebagai upaya menjaga memori sejarah dan diresmikan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto. TNI juga membangun Mushola Ar-Rahim menjadi lebih bagus dan kokoh. Terletak di tengah rerimbunan pohon pinus dan cemara, alhamdulillah air bersih tersedia begitu banyak sehingga tidak membuat khawatir siapapun yang ke sini.

Para peserta kemudian dikumpulkan kembali di depan Veteran Coffee, untuk pemanasan sedikit dengan games-games yang menyenangkan, dipandu oleh Wa Ekong. Dari games tepuk tangan sampai mencari kelompok berdasarkan jumlah orang, misal 1 orang jadi patung pancoran, 2 orang jadi tukang ojek, 3 orang jadi tukang becak, 4 orang jadi bunga matahari, dan 5 orang jadi pendayung. Sampai akhirnya dibentuk 6 kelompok dengan anggota masing-masing berjumlah 10 orang.
Benteng Cikahuripan
Sejarah Benteng Cikahuripan
Penelusuran Benteng Cikahuripan pun dimulai dengan menaiki tangga tanah menuju Benteng 1, Benteng 2, Ruangan Senjata Besar, Benteng Para Petinggi, Benteng Pertahanan, dan Benteng Senjata Laras Panjang. Menurut sejarah, Benteng Cikahuripan dibangun pada masa penjajahan Belanda yang digunakan untuk pertahanan militer pada Perang Dunia II, sekira tahun 1917 atau 1928 yang melibatkan rakyat Indonesia melalui kerja rodi. Benteng ini juga menjadi saksi bisu perjuangan para prajurit Siliwangi dan masyarakat Jawa Barat saat menumpas DI/TII di Bandung Utara.

Struktur bangunan benteng berbentuk segi empat dan terlihat kokoh sebagai perisai pertahanan. Menurut Kang Sigit, jika dilihat dari angkasa seperti pentagon. Bangunan ini memiliki tinggi kurang lebih 10 meter dengan luas hingga satu hektar. Benteng Cikahuripan adalah bangunan dua lantai dimana lantai pertama mempunyai empat pintu gerbang, ruangan besar, ruangan kecil, dan pintu penghubung. Lalu terdapat delapan anak tangga untuk ke lantai dua.

Sementara di lantai dua ada pintu penghubung, jendela, ruangan besar, ruangan kecil berbagai ukuran, dan sekitar empat anak tangga yang menghubungkan ke atap benteng. Atapnya terbuat dari batu bata merah yang sangat kokoh dan dibuat menyerupai bukit-bukit kecil. Itu sebabnya, bangunan ini sangat ideal untuk tempat pertahanan dan sekaligus untuk mengintai musuh. "Benteng ini sangat kuat," ujarnya. Dari segi warna, bangunan berciri khas arsitektur Belanda ini memiliki warna putih.

Namun sebagian besar benteng masih tertimbun tanah karena aktivitas vulkanik dari Gunung Tangkuban Parahu selama puluhan tahun dan juga tertutup oleh pepohonan serta semak belukar. Area benteng yang masih terlihat jelas adalah yang sudah disebutkan di atas dan menjadi tujuan utama dari trip ini, yaitu Benteng 1, Benteng 2, Ruangan Senjata Besar, Benteng Para Petinggi, Benteng Pertahanan, dan Benteng Senjata Laras Panjang. Perlu diketahui bersama, bahwa lokasi keberadaan benteng Belanda ini adalah di Gunung Sukatinggi.

Gunung Sukatinggi masih terpampang jelas di peta Geologi Van Bemmelen 1934, AMS 1943, dan AMS T725 series 1962 dengan ketinggian 1.689 mdpl, dan puncaknya berada di bagian dinding selatan kaldera Gunung Sunda Purba yang merupakan bagian dari bentang alam vulkanik, membentuk kawasan Bandung Utara. Akan tetapi gunung tersebut sudah tidak tercantum pada peta saat ini, hanya menyisakan bukti sebuah tangga yang sedikit tertutupi oleh semak menuju puncaknya.

Trip Kemerdekaan Geowana kali ini membuka semua mata peserta bahwa sejarah masa lalu tidak bisa dihilangkan begitu saja dengan tidak mencantumkannya ke dalam peta karena jejak dan buktinya masih ada. Sosok itu melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Benteng Cikahuripan masih ada meski sebagian besarnya tertimbun di dalam tanah. Dari arsip lama juga diketahui bahwa lereng dan kaki Gunung Sukatinggi pernah menjadi kawasan perkebunan kina, bertetangga dengan perkebunan kina Jayagiri.

Perjalanan kemudian ditutup dengan makan siang di Veteran Coffee dengan menu tradisional yang begitu nikmat, lalu ditutup dengan games terakhir Tarzan-Jane-Macan dan rebutan bola. Para peserta tampak puas dan Tim Geowana Ecotourism berhasil menciptakan event eksplorasi lingkungan, sejarah, serta budaya lokal. Selanjutnya masih ada 2 km lagi perjalanan pulang menuju angkot elf yang sudah menunggu dan trip kali ini tentu akan menyisakan pengalaman dan pertemanan yang tidak akan terlupakan.[]

0 Comments