JAWA BARAT SEHAT, INDONESIA KUAT

Cek Kesehatan Gratis

Sri Witari tidak pernah membayangkan sebelumnya bahwa hari-hari biasa di Puskesmas Bogor Selatan akan langsung mengubah hidupnya. Wanita dengan berat badan 130 kilogram itu datang hanya karena penasaran dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang ramai diperbincangkan tetangganya. “Saya pikir paling cuma dicek tensi, terus pulang,” kenangnya sambil tersenyum malu.

Namun hasil pemeriksaannya membuat Sri terpaku. Hipertensi, diabetes melitus, kolesterol tinggi, dan obesitas. Empat diagnosis sekaligus yang selama ini tidak pernah ia sadari. “Sering capek, saya pikir ya karena badan besar saja. Saya enggak kepikiran ternyata ada penyakit,” ujarnya.

Cerita Sri hanyalah satu dari jutaan warga Jawa Barat yang tahun 2026 mulai sadar akan pentingnya deteksi dini. Program CKG yang dicanangkan pemerintah pusat dengan target nasional 130 juta pemeriksaan pada tahun 2026, telah menjangkau 35 juta orang di seluruh Indonesia hingga pertengahan tahun . Di Jawa Barat, targetnya bahkan lebih ambisius, yaitu 100 persen, artinya ada sekira 50 juta jiwa yang diimbau untuk mengikuti pemeriksaan ini.

“Target kemarin 20 persen, kita di 22 persen. Tapi Pak Gubernur menyampaikan, target harus ekstrem. Tahun ini semangatnya harus 100 persen,” tegas Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, dr. R. Vini Adiani Dewi, MMRS.

Apa yang membuat program ini begitu penting? Hasil pemeriksaan di Bogor pada April 2026 mengungkap fakta mencengangkan. Dari 679 peserta, ada 73,8 persen yang berisiko terkena penyakit kronis. Rinciannya, 54,2 persen memiliki kadar kolesterol di atas normal, 42,1 persen tekanan darah tinggi, dan 10,3 persen gula darah di atas 200 mg/dL. Bahkan ada peserta dengan gula darah mencapai 500 mg/dL atau tekanan darah di atas 200, tanpa merasakan gejala apapun.

Jawa Barat Sehat Indonesia Kuat

Ketika Debu Kapur Berbicara

Ada keresahan warga di Kecamatan Cipatat dan Padalarang yang bertahun-tahun hidup di tengah debu industri pengolahan batu kapur. Pemerintah pun akhirnya turun tangan. Empat puskesmas (Sumurbandung, Jayamekar, Tagogapu, dan Cipatat) langsung dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan massal pada 25-31 Juli 2026.

Dalam seminggu, tercatat 2.974 kunjungan. Dari jumlah itu, 2.870 orang atau 96,5 persen mengikuti Cek Kesehatan Gratis. Pemeriksaan rontgen dada dilakukan pada 1.772 warga, dan hasilnya sungguh mengkhawatirkan, yaitu 378 orang masuk kategori suspek TBC, 267 orang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), dan 25 orang suspek Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

Namun, yang lebih mencengangkan adalah temuan tambahan, bahwa 819 warga atau 28,5 persen ternyata memiliki hipertensi. Termasuk bukti kalau debu kapur bukan satu-satunya ancaman, tetapi gaya hidup juga membunuh secara perlahan.

Kasus Bandung Barat ini menggambarkan betapa kompleksnya penanganan TBC di Jawa Barat. Secara akademis, penelitian Felicia Juanita dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember pada awal 2026 menunjukkan bahwa kasus TBC di suatu kabupaten atau kota di Jawa Barat ternyata dipengaruhi oleh wilayah tetangganya. Ada autokorelasi spasial positif yang signifikan dengan nilai Moran's I sebesar 0,3553. Artinya, jika satu daerah memiliki angka TBC tinggi, daerah di sekitarnya juga berisiko tinggi. Faktor-faktor seperti kepadatan penduduk, akses sanitasi yang layak, dan jumlah puskesmas menjadi penentu utama.

TBC

Kabupaten Cianjur mencatat 5.763 kasus TBC pada Januari-Juni 2026, dengan 25 di antaranya meninggal dunia. Dari total kasus, 4.643 pasien masih menjalani pengobatan. "Pasien TBC yang meninggal tercatat sedang dalam pengobatan. Rata-rata dari kalangan usia dewasa,” ungkap Pengelola Program TBC Dinkes Cianjur, Dikdik Najmudin.

Meskipun demikian, Jawa Barat justru dinobatkan sebagai provinsi dengan penanganan TBC terbaik di Indonesia. Angka penemuan kasus mencapai 96 persen atau sekitar 234 ribu kasus berhasil terdeteksi. Pengobatan diberikan gratis di seluruh puskesmas, dengan pendekatan tracing dan screening pada keluarga pasien untuk memutus rantai penularan.

Jawa Barat Sehat Indonesia Kuat

Rumah Sakit yang Bernapas

Di balik layar, transformasi besar sedang berlangsung di fasilitas kesehatan Jawa Barat. Bukan hanya soal gedung megah, tetapi bagaimana rumah sakit beradaptasi dengan tantangan masa depan. Dr. Ari Nurfikri, dosen Program Studi Administrasi Rumah Sakit Universitas Indonesia, pada Juni 2026 mempertahankan disertasinya tentang “Model Keberlanjutan Rumah Sakit Berbasis Implementasi Green Hospital”.

Penelitiannya yang berlangsung sepuluh bulan di dua rumah sakit (RSUD R. Syamsudin SH di Sukabumi dan RS Universitas Indonesia di Depok) menghasilkan temuan menarik. Kedua rumah sakit ini memiliki capaian kelembagaan yang kuat (skor 94,05 dan 81,74). Namun, tantangan mereka berbeda. RSUD Sukabumi justru lemah pada dimensi sosial seperti kepuasan pasien dan pegawai, kebijakan kendaraan ramah lingkungan, serta pemanfaatan sumber makanan lokal. Sementara RS UI di Depok menghadapi masalah ekonomi seperti efisiensi biaya dan perencanaan investasi teknologi ramah lingkungan.

“Ini menjadi dasar bagi setiap rumah sakit untuk merancang tahapan transformasi green hospital sesuai dengan kebutuhan, kemampuan sumber daya, dan karakteristik kelembagaannya,” ujar Ari.

Transformasi fisik juga terjadi di RSUD Welas Asih (dulu Al-Ihsan) Baleendah yang sedang membangun Gedung Stroke setinggi 6 lantai dan fasilitas nuklir untuk pengobatan kanker dengan anggaran Rp44 miliar pada 2025 dan Rp81 miliar pada 2026. Sementara RSUD MA Sentot Patrol di Indramayu diambil alih pengelolaannya dari kabupaten ke provinsi untuk meningkatkan kapasitas layanan lintas daerah.

Hal ini jelas menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menyediakan layanan kesehatan modern yang bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Indonesia Kuat

Jawa Barat Sehat Indonesia Kuat

Mimpi Zero Stunting di Garawangi

Jika TBC adalah musuh masa kini, stunting adalah ancaman bagi masa depan bangsa. Dan di Kecamatan Garawangi, Kabupaten Kuningan, ancaman itu nyata karena data tahun 2026 mencatat 490 balita dari total sekitar 2.500 anak di Garawangi mengalami indikasi stunting, dengan prevalensi mencapai 19,7 persen. Angka ini menjadikan Garawangi sebagai wilayah dengan kasus stunting tertinggi dibandingkan 32 kecamatan lainnya di Kabupaten Kuningan.

“Persoalan stunting tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja, tetapi membutuhkan kolaborasi semua unsur,” tegas Hj. Ika Siti Rahmatika, anggota DPRD Jawa Barat, saat mengunjungi Garawangi pada 28 Juni 2026.

Pemerintah Kecamatan Garawangi telah melakukan berbagai upaya, yaitu program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dasyat) hingga Gerakan Orang Tua Asuh berbasis kepedulian masyarakat. Namun camat setempat, Maryanto, mengingatkan bahwa stunting bukan sekadar masalah makanan. Ini menyangkut pola asuh, sanitasi, kesehatan keluarga, dan ketahanan pangan. “Kita perlu memastikan intervensi yang diberikan tepat sasaran. Pemberian makanan tambahan harus disesuaikan dengan kebutuhan anak, terutama bagi balita dan baduta,” ujarnya.

Secara keseluruhan, Jawa Barat sebenarnya menunjukkan kemajuan menggembirakan. Prevalensi stunting turun dari 31,1 persen pada 2018 menjadi 15,9 persen pada 2024 sehingga menggeser kategori Jawa Barat dari “sedang” menjadi “rendah” dan berada di bawah rata-rata nasional (19,8 persen). Namun, secara absolut, masih ada sekitar 637.027 balita stunting di Jawa Barat pada tahun 2024 karena populasi Jawa Barat yang sangat besar.

“Penurunan ini tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak,” ujar Siti Muntamah, Wakil Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, pada peringatan HUT ke-80 Jabar pada Agustus 2025. “Upaya dilakukan melalui pemberian gizi yang tepat dan seimbang, seperti menyediakan makanan sehat untuk ibu hamil, memenuhi kebutuhan gizi anak pada 1.000 hari pertama kehidupan, serta memperkuat peran posyandu sebagai tempat pemantauan tumbuh kembang anak.”

Meski demikian, tantangan tetap ada. Masih terdapat 1 kabupaten dengan prevalensi tinggi (>30 persen) dan 7 kabupaten/kota dengan kategori sedang (20–29 persen). Risiko stunting juga meningkat setelah usia 12 bulan dan tertinggi pada usia 24–35 bulan (20 persen), yang menunjukkan perlunya konsistensi intervensi pada masa transisi Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI).

Namun ada fakta penting bahwa 80 persen kasus stunting berkaitan dengan TBC. Seorang ibu yang menderita TBC tanpa disadari bisa menularkan ke anaknya, yang kemudian mengalami gangguan pertumbuhan. Begitu pula anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan sanitasi buruk sudah pasti rentan terhadap infeksi sekaligus kekurangan gizi.

Inilah sebabnya mengapa program-program kesehatan di Jawa Barat tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Cek Kesehatan Gratis yang dilakukan di Bandung Barat tidak hanya menemukan suspek TBC, tetapi juga hipertensi dan ISPA. Di Cianjur, penanganan TBC dilakukan bersamaan dengan sosialisasi gizi untuk mencegah stunting.

Dante Saksono Harbuwono, Wakil Menteri Kesehatan, pada Mei 2026 menyatakan bahwa pemerintah menggandeng komunitas dan mitra strategis, termasuk perusahaan ojek online, untuk memperluas jangkauan CKG. “Kami berada di rangkaian pemeriksaan kesehatan gratis untuk para mitra daerah. Ini salah satu cara yang efektif untuk melakukan pemeriksaan kesehatan gratis,” ujarnya di Kota Bandung.

Namun, masih ada pekerjaan rumah. Cakupan CKG di Jawa Barat tidak merata dimana Kota Bogor mencapai 48,66 persen, sementara Kota Depok hanya 9,14 persen. Begitu pula dengan anggaran stunting yang belum sepenuhnya selaras dengan tingkat prevalensi antardaerah.

Jawa Barat Sehat Indonesia Kuat

Menuju Indonesia Kuat

Di Puskesmas Bogor Selatan, Sri Witari kini rutin datang untuk kontrol. Berat badannya turun dari 130 kg menjadi 95 kg. Ia tidak lagi mengabaikan saran dokter. “Di sini enggak dimarahi. Dijelasin pelan-pelan, dikasih tahu harus bagaimana. Jadi saya bisa pelan-pelan mengubah kebiasaan,” ujarnya.

“Kalau hasilnya menunggu dari laboratorium dulu untuk positif atau negatif TB-nya. Itu baru suspek dari hasil skrining yang dilakukan,” jelas Plt Kepala Dinkes Bandung Barat, Lia N Sukandar, menunggu hasil pemeriksaan 378 warga suspek TBC.

Di Garawangi, 490 anak masih berjuang melawan stunting. Di Cianjur, 4.643 pasien TBC menjalani pengobatan enam bulan yang panjang. Di Sukabumi, RSUD R. Syamsudin SH berbenah untuk menjadi lebih ramah lingkungan dan lebih peduli pada pasien.

Indonesia Bebas Stunting

Perjalanan menuju “Masyarakat Sehat, Indonesia Kuat” masih panjang. Namun, dengan kolaborasi lintas sektor, pendekatan berbasis data, dan semangat gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, Jawa Barat menunjukkan bahwa perubahan itu nyata. Semua hal itu dimulai dari diri sendiri. Sehat untuk diri sendiri, kuat untuk Indonesia. Dan kisah ini baru permulaan.[]

#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI

Jawa Barat Sehat Indonesia Kuat

Daftar Pustaka

  1. https://nasional.kompas.com/read/2026/08/01/11550871/cek-kesehatan-gratis-tak-berhenti-pada-diagnosis-pasien-didampingi-hingga
  2. https://koran.pikiran-rakyat.com/news/pr-30310217426/cek-kesehatan-gratis-tembus-35-juta-orang-pemerintah-gandeng-komunitas-di-jawa-barat?page=all
  3. https://koran.pikiran-rakyat.com/news/pr-30310318069/cek-kesehatan-gratis-di-jawa-barat-ditargetkan-100-persen-dinkes-ajak-warga-manfaatkan-program
  4. https://www.dexagroup.com/id/antusiasme-warga-bogor-tinggi-cek-kesehatan-gratis-diminati/
  5. https://bandung.kompas.com/read/2026/08/03/131040078/diduga-terdampak-polusi-debu-industri-kapur-378-warga-bandung-barat-suspek
  6. https://rejabar.republika.co.id/berita/tj2x2y282/378-warga-terdampak-debu-pengolahan-batu-kapur-di-bandung-barat-suspek-tb
  7. https://repository.its.ac.id/129571/
  8. https://bandung.kompas.com/read/2026/07/09/182321978/25-warga-cianjur-meninggal-akibat-tbc-4643-pasien-jalani-pengobatan
  9. https://vokasi.ui.ac.id/web/promosi-doktoral-dr-ari-nurfikri-hadirkan-model-keberlanjutan-green-hospital-untuk-transformasi-rumah-sakit/
  10. https://megapolitan.antaranews.com/berita/536619/mahasiswa-doktor-ui-rumuskan-model-green-hospital-di-rs-di-jawa-barat
  11. https://rri.co.id/cirebon/regional/2527642/data-stunting-garawangi-tembus-490-anak-pemkab-diminta-perkuat-intervensi
  12. https://rri.co.id/bandung/regional/1779160/hut-jabar-komisi-v-dorong-terwujudnya-zero-stunting

Post a Comment

0 Comments