Kehebatan Kamera ROG Phone II


Kalau ada yang bertanya, sejak kapan sosok itu menyukai dunia fotografi, maka jawabannya adalah sejak berkuliah di ITB. Oke dirinya memang sudah mengenal kamera sejak belum kuliah. Lupa kapan pastinya, yang pasti dirinya begitu suka dengan foto-foto bagus yang ada di album foto keluarganya.

Juga beberapa kali almarhum bapaknya membawa kamera meski bukan miliknya. Hingga kemudian dirinya suka dengan dunia fotografi saat masuk kuliah. Berkenalan dengan kawan-kawan yang memiliki hobi sama dan memiliki kamera sendiri. Dulu kamera adalah barang mewah, sama seperti ZenBook.

Kamera yang dipelajarinya berjenis SLR atau Single Lens Reflection. Meski hanya bermodalkan kamera pinjaman, sosok itu akhirnya jadi paham tentang ilmu fotografi. Zaman berganti dan bertransformasi. Teknologi fotografi pun mengalami perubahan yang siginifikan. Film 35 mm pun tergantikan oleh teknologi digital.

Lambat laun, kamera DSLR sedikit tersaingi oleh kamera pocket yang berteknologi digital. Kamera mirrorless menjadi banyak yang meminatinya. Tidak hanya itu, ponsel yang awalnya hanya bisa menerima teks SMS dan telepon kini telah bertransformasi menjadi smartphone.

ASUS ROG Phone II hadir dengan sangat istimewa di Indonesia melalui acara peluncuran yang sangat meriah. Bertajuk “We Own The Game”, acara grand launching ROG Phone II ini dimeriahkan oleh ROG Master yang terdiri dari tim eSports Rex Requm Qeon (RRQ) dan Aerowolf, serta YouTuber terkenal Atta Halilintar.

Selain itu hadir pula aktris sekaligus penyanyi Pevita Pearce yang merupakan ROG Ambassador. Satu tamu istimewa di acara ini adalah Chairman ASUS, Jonney Shih. Kehadiran Jonney Shih menegaskan bahwa ASUS tetap serius menghadirkan produk smartphone di Indonesia.

Buktinya adalah bentuk kepedulian ASUS dalam membahas refresh rate dan response time di ROG Phone II. Refresh rate merupakan kemampuan layar untuk melakukan refresh dan menampilkan frame dalam satu detik yang ditampilkan dalam bentuk frekuensi dengan satuan Hertz (Hz).

Refresh rate erat kaitannya dengan berapa banyak frame yang bisa ditampilkan layar dalam satu detiknya. Semakin tinggi refresh rate maka jumlah frame yang dapat ditampilkan semakin banyak, dan semakin banyak frame yang ditampilkan maka tampilan visual dan animasi akan terlihat semakin halus.

“Para gamers membutuhkan frame rate yang tinggi saat bermain game karena hal tersebut sangat berpengaruh pada setiap aksi yang dilakukannya,” jelas Jimmy Lin. Sebagian besar gamers eSport sudah terbiasa dengan standar refresh rate 144 dan 240Hz.

Response time juga dianggap sebagai faktor kemenangan seorang gamer. Response time adalah waktu yang diperlukan layar untuk menampilkan perintah atau masukan (input) gamer menjadi animasi di dalam game. Response time yang tinggi membuat input dari gamer terlambat untuk ditampilkan sehingga menimbulkan fenomena jeda input atau input lag.

Setiap milidetik bagi gamer adalah pertaruhan hidup atau mati dan menang atau kalah, sehingga perangkat yang memiliki layar dengan response time lebih rendah tentu saja lebih diminati. Pada umumnya, smartphone gaming tidak terlalu fokus pada kamera karena kualitas bermain game tidak berhubungan langsung dengan kameranya.

Namun perlu diketahui bahwa ASUS juga sebelumnya sudah mengeluarkan Zenfone 6 yang kualitas kameranya mumpuni. Nah, apakah kamera ROG Phone II juga memiliki kualitas yang sama? Kamera ROG Phone II menggunakan sensor Sony IMX586 dengan kualitas 48MP Quad Bayer.


Kamera ini berukuran 1/2″ dan 0.8┬Ám pixel pitch. Lalu bukaan lensanya f/1.8 yang kurang lebih sama dengan lensa 26mm tanpa OIS. Untuk pemotretan biasa ataupun dengan mode ultrawide, terdapat EIS yang cukup lah. Berbicara soal mode ultrawide, kamera ini bisa bekerja pada kualitas 13MP dengan sudut lensa 125 derajat (sama dengan lensa 11mm), tetapi dengan titik fokus yang tidak bisa diubah-ubah.

Pada bagian atas dari interface kamera, terdapat shortcut yang bisa membantu pengambilan gambar sesuai yang diinginkan. Di sana ada tombol settings, mode HDR, aspect ratio, flash, dan filters. Sedangkan pada interface utama–selain mode pemotretan biasa atau ultrawide–terdapat pilihan video, foto, portrait atau selfie, panorama, malam, dan pro.

Khusus mode malam, jelas amat membantu mereka yang awam soal kamera saat cahaya kurang. Uniknya, fungsi ultrawide juga bisa digunakan pada mode malam. Sosok itu suka dengan smartphone keluaran ASUS karena memiliki mode pro yang membuat smartphone menjadi seperti kamera manual.

Shutter speed dapat diatur hingga 16s. Ini keren abis karena Zenfone 4 yang dimilikinya hanya terbatas sampai 1/3s. Sementara ISO-nya bisa disetel dari angka 25 hingga 1600. Setting kamera sama dengan seri-seri smartphone ASUS sebelumnya, hanya saja untuk pilihan resolusi kamera ada 7MP, 9MP, 12MP, dan 48MP.

Khusus untuk pilihan 48MP, tidak didukung oleh mode HDR atau efek tertentu. Tidak ada pengaturan anti-flicker sebagai bagian dari AI scene detection, tetapi cukuplah untuk mengatasi hal-hal dasar seperti kapan smartphone ini menggunakan tripod atau target yang bergerak cepat.

Sama seperti kamera pada Zenfone 6, ROG Phone II memiliki kamera yang dapat memotret pada mode HDR Auto+ dengan hasil yang amat baik (pencahayaan cukup). Ada banyak detail yang tertangkap di sana dan lumayan bebas noise. Warnanya juga makin cerah dan mendekati aslinya.

Tentu inilah yang diharapkan dari Sony IMX586. Di sini, sosok itu hanya memberikan dua contoh foto objek diam yang begitu detail dengan mode HDR. Sejauh ini sih, dia cukup puas dengan hasil fotonya. Namun jika dibandingkan dengan hasil foto normal, dia lebih suka dengan hasil foto yang menggunakan mode HDR.

Asal syarat pencahayaannya benar-benar cukup, tidak seperti di Guha Pawon. Kalau pencahayaannya kurang, cukuplah langsung diganti dengan mode malam atau night. Secara keseluruhan, masih lebih baik kamera pada Zenfone 6 tetapi karena ROG Phone II adalah smartphone khusus gaming, jadi masih wow.[]

Post a Comment

0 Comments