Ramadhan Masa Kecil: Ngabuburit Gundu

Ramadhan Masa Kecil | One DOA | Ngabuburit | Gundu

Istilah 'ngabuburit' tidak begitu dikenal bagi Aswi kecil, kecuali setelah dirinya ngampus di Bandung. Gak ada tuh 'jalan-jalan' di sore hari untuk mencari makanan buat berbuka, kecuali hanya bermain menghabiskan waktu hingga akhirnya bersiap untuk berbuka bersama di rumah atau di masjid. Ngabuburit memang asalnya dari bahasa Sunda dan dimulai dari Tanah Pasundan.

Pada cerita sebelumnya tentang Nge-geng, dia dikatakan adalah seorang pemain gundu yang jago. Hal ini tentu saja didapat dari latihan yang konsisten setiap waktu di rumahnya. Baik itu cara menyentilnya dengan berbagai jari kanan dan kiri, hingga menempatkan pada sasaran yang tepat. Seperti ... tiada hari tanpa latihan gundu.

Oya, orang Jakarta atau Betawi memang menyebut benda kecil mengkilat seperti kaca dengan nama gundu. Kalau anak-anak Sunda menyebutnya dengan nama kaleci. Anak-anak Jawa menyebutnya neker. Anak-anak Banjar menyebutnya Kleker. Anak-anak Belanda menyebutnya knikker. Anak-anak Inggris selain sebutan marbles. Sedangkan anak-anak Prancis menyebutnya billie.

Secara umum, orang Indonesia menyebutnya dengan kelereng. Konon permainan tradisional ini dimulai di Mesir Kuno pada 3000 Sebelum Masehi (SM) dengan menggunakan batu. Baru kemudian di Jerman dibuatlah kelereng dari kaca pada 1864. Nah, mengapa sosok itu menceritakan perihal gundu ini di sini, tidak lain karena inilah permainan yang sering dimainkannya saat ngabuburit.

Lokasi bermainnya sendiri bisa di jalan setapak menuju bedeng, di lahan dekat pipa Tenaga Uap, di tepi jalan yang memiliki tanah yang luas, halaman sekolah, atau kadang ya main di halaman rumah sendiri. Pada masanya, di dikenal dengan nama Raja Gundu. Kok bisa? Ini karena keahliannya yang jago saat bermain gundu. Kalau di sekolah, sangat jarang yang mau main gundu dengannya karena selalu menang.

Meski dia sudah mau merendahkan diri dengan memakai tangan kiri, tetap saja dibilang jago. Akhirnya, yang bisa dilakukannya adalah bermain suka-suka (bukan kompetisi). Kalaupun harus berkompetisi, sosok itu harus mencari lawan yang seimbang. Hanya ada beberapa dan kalau pertandingan itu terlaksana, yang menontonnya lumayan banyak. Taruhannya tidak tanggung-tanggung, bisa puluhan gundu sekali main.

Aswi kecil pernah tidak punya gundu, lalu meminjam 2 biji untuk mulai bermain. Setelah itu, dia pulang ke rumah sudah membawa satu kaleng biskuit berisi gundu. Biasanya gundu-gundu itu dijualnya kembali sampai habis dengan harga Rp25 per dua biji gundu. Begitu seterusnya. Secara tidak langsung, dari permainan gundu dia sudah mendapatkan penghasilan yang lumayan. Puasa lancar, ngabuburit pun terasa menyenangkan.[]

#OneDOA #HariKe9 #BloggerBDGxRamadhan #KOMBESmenulis

Post a Comment

0 Comments